Pusat penampungan pengungsi di Nauru./RNZI
Pusat penampungan pengungsi di Nauru./RNZI

Nauru, Jubi – Organisasi Amnesty International memperingatkan beberapa perusahaan kontraktor penyelenggara kamp pengungsi milik Australia di Nauru. Perusahaan-perusahaan ini dituding telah melakukan pelanggaran HAM selama menjalankan tugasnya di kamp.

Dalam laporan terbarunya yang berjudul ‘Treasure I$land’, Amnesty International menyebut perusahaan kontraktor asal Spanyol, Ferrovial, melalui anak perusahaannya, Broadspectrum, telah menangguk keuntungan hingga miliaran dolar selama mengelola kamp. Untung yang diperoleh Broadspectrum dari kamp pengungsi jauh lebih tinggi dibandingkan bidang bisnis lainnya yang mereka kerjakan.

Baru-baru ini, Ferrovial telah menyatakan tidak akan memperpanjang kontraknya yang akan berakhir pada Oktober mendatang. Menurut Direktur Kampanye Amnesty Selandia Baru, Meg deRonde, hal itu terjadi karena massifnya gelombang protes terhadap perusahaan Ferrovial hingga reputasinya hancur.

“Dalam hal ini sangat jelas, keuntungan tidak dapat diraih dengan mengabaikan hak asasi manusia dan bagi setiap perusahaan yang ingin menjalankan dan atau memperpanjang kontrak pekerjaan di kamp pengungsi, mereka harus tahu bahwa hal itu melanggar hukum internasional dan pelanggaran HAM khususnya terhadap anak-anak dan wanita,” ujarnya.

Amnesty International selama ini dikenal karena termasuk yang paling getol mengawasi praktik penyelenggaraan kamp pengungsi milik Australia yang ada di Nauru dan di pulau Manus, Papua Nugini. Laporannya terdahulu pernah mengungkap praktik penyiksaan terhadap pengungsi dan pelecehan seksual terhadap anak-anak yang ada di kamp.

Laporan Amnesty yang dipublikasikan oleh The Guardian itu pernah menggoncangkan dunia dan membuat posisi pemerintah Australia tersudut. Serangkaian protes muncul di berbagai tempat menuntut pemerintah Australia menutup kamp pengungsi.

Australia tetap tidak mau menerima permohonan suaka politik dari para pengungsi dan pencari suaka. Mereka bekerjasama dengan pemerintah Amerika Serikat agar menerima sebagian para pencari suaka untuk bermukim di AS. **

 

Reporter :RNZI
redaksi@tabloidjubi.com
Editor : Lina Nursanty