KTT APEC PNG 2018: KTT Amburadul dan Pinjam Sana-Sini

Oelh Dahlan Iskan, diposkan di FB Marinus Yaung

Baru sekali ini terjadi. Sebagian peserta KTT APEC tidak tinggal di negara penyelenggara: Papua New Guinea. Sampai jadi bahan guyonan.

Wakil Presiden Amerika Serikat misalnya, tinggal di Australia. Demikian juga Sultan Bolkiah dari Brunai. Pagi-pagi mereka terbang dari Australia. Menghadiri sidang-sidang APEC. Sorenya balik ke hotel mereka di Australia. Tepatnya di Cairns. Kota kecil di negara bagian Queensland. Yang menghadap ke Papua New Guinea. Penerbangan dari Cairns ke Port Moresby, tempat sidang, memakan waktu 1,5 jam.

Tentu alasan utamanya adalah keamanan. Papua New Guinea dikenal tidak aman. Fasilitasnya juga minim. Beberapa kegiatan terpaksa dilakukan di atas kapal. Yang bersandar di pelabuhan Port Moresby. Termasuk pidato dua tokoh penting: Wapres AS Mike Pence dan Presiden Tiongkok Xi Jinping.

Ada alasan guyonan kenapa Mike Pence tidak mau tinggal di Port Moresby. Ibukota PNG itu sudah seperti dikuasai Tiongkok.
Jalan-jalan utama di sana dibangun oleh Tiongkok. Lewat program One Belt One Road (OBOR). Kalau Pence tinggal di Port Moresby sama saja dengan menjadi tamu Tiongkok.

Padahal Amerika lagi dalam keadaan perang. Lawan Tiongkok. Perang dagang. Bahkan juga perang program. Amerika lagi melaunching OPIC: saingan OBOR.

Pidato Pence kemarin di kapal itu penuh berisi promosi OPIC. Sambil menyindir habis-habisan OBOR. Negara-negara Asia, kata Pence, jangan mudah tergiur belt yang mencekik dan one road yang menyesatkan. Penyebutan kata belt dan road di situ jelas menyindir OBOR. Masalahnya OPIC-nya Amerika ‘hanya’ menyediakan dana USD 60 miliar. Sedang OBOR-Tiongkok USD 1 triliun.

Saat Pence berpidato Xi Jinping belum tiba di kapal. Dan saat Jinping tiba, Pence sudah meninggalkan kapal.

Xi Jinping tidak merespons sedikit pun serangan Pence. Ia lebih menekankan bahwa perang dagang yang sedang berlangsung hanya membuat semua pihak kalah. ”Tidak akan ada yang menang,” katanya.

Pengamat bahkan menilai Pence tidak mau tinggal di Port Moresby karena ini: tidak mau jadi penonton di panggungnya Tiongkok.

Panggung Tiongkok itu nyata adanya: kedatangan Xi Jinping dielu-elukan. Sampai anak sekolah pun dikerahkan untuk menyambutnya di pinggir jalan. Spanduk-spanduk besar dibentang. Bahkan Papua Niugini merelakan Xi Jinping menghelat KTT sendiri. Sebelum KTT APEC. Yakni KTT antara Xi Jinping dengan kepala-kepala negara kecil di Pulau-pulau Pasifik Selatan. Mereka itu dulu memihak Taiwan. Kini memindahkan kedutaan mereka ke Beijing. Setelah begitu banyak mendapat bantuan pembangunan dari OBOR.

KTT khusus itu seperti perlawanan. Itu karena Pence mengagendakan bertemu ketua delegasi Taiwan. Di sela-sela kegiatan KTT APEC. Rupanya KTT APEC berubah: dari forum ekonomi negara-negara Pacific ke forum politik.

APA BOLEH BUAT

Tuan rumah KTT sekarang ini memang bersejarah: dilaksanakan di negara paling miskin di antara anggotanya. Papua kita jauh lebih maju dari tetangganya di timur itu.

Kalau pun Papua Niugini punya kelebihan dari Papua kita adalah: di sana kini punya 40 mobil Maserati yang mewah. Yang dibeli menjelang KTT ini. Yang bikin rakyatnya marah. Demo. Minta perdana menteri Peter O’ Neill mundur, tetap saja Perdana Menteri satu ini cuek bebek.

Saat wartawan bertanya tentang 40 Maserati itu O’Neill balik meledek: kenapa kalian tidak bertanya saat Vietnam membeli 400 Audi. Ketika KTT APEC dilangsungkan di sana.

Masalahnya Vietnam memang mampu membeli. Sedang untuk KTT APEC kali ini Niugini harus minta sumbangan. Pinjam sana sini. Tidak mampu menanggung biaya penyelenggaraannya. Permintaan sumbangan dikirim ke tetangganya: Australia. Satunya lagi ke juragannya: Xi Jinping.

Sampai ada yang meledek: ini bukan KTT APEC. Ini KTT XIPEC…
( Copas from Dahlan Iskan )

Comments

comments

Posted in: Featured

One Comment

  1. melabiz says:

    Tanggapan di FB

    Papua Biz Pak Yaung, dalam 2018 ini saya diutus KSU Baliem Arabica ke Port Morsby, sudah dua kali saya tinggal dan saya tidak melihat bayangan seperti itu lagi. Ini mungkin cerita 5-10 tahun lalu. Kondisi PNG hampir sama dengan Jayapura, orang bisa jalan sendiri malam juga bisa. Toko buka sampai larut malam.

    Kalau lihat infrastruktur jalan raya, menyamai Singapura, sangat rapih dan modern. Gedung pencakar langit mulai muncul banyak, Jayapura kalah dalam hal ini.

    Memang harus saya akui kesan yang sudah lama melekat bahwa Port Moresby kota rascol masih ada. Cerita Pak Yaung ini memperkuat kesan itu. Tetapi kesan ini sudah mulai terhapus. Saya sendiri mengalaminya. Saya juga dipaksa baru pergi, kalau keputusan sendiri saya takut pergi ke sana. Sampai di sana baru saya kaget, kok berbeda dengan itu cerita teman-teman yang sudah pernah ke Port Moresby ya?

    Ada satu lagi, Pak Gubernur Powes Parkop, saat saya bicara dengan dia dalam rangka buka Cafe Kopi Wamena di sana, dia katakan Mosbi sudah menjadi Hub Ekonomi Pasifik Selatan, khususnya Melanesia. Dia mengolah Mosbi “dengan nurani” dan “cinta kasih”, saya terharu, bercampur bangga.

    Pak Yaung dan saya OAP, kita dua harus bangga melihat kota terbesar Melansia ini menyelenggarakan acara besar seperti ini.

    Foi Moi, begitu kata ku. Wa wa wa

Leave a Comment